حرف
التّشبيه
الأمثلة
:
يَوْمَ
يَكُوْنُ النَّاسُ كَا الْفَرَاشِ الْمَبْثُوْثِ
لَيْسَ
كَمِثْلِهِ شَيْئٌ
كُنْ
كَمَا أَنْتَ
اَنِّيْ اَخْلُقُ لَكُمْ مِّنَ الطِّيْنِ كَهَيْئَةِ
الطَّيْرِ فَاَنْفُخُ فِيْهِ فَيَكُوْنُ طَيْرًا بِاِذْنِ اللهِ
الزُّجَاجَةُ
كَأَنَّهَا كَوْكَبٌ
دُرِّيٌّ
يَسْئَلُوْنَكَ
كَأَ نَّكَ حَفِيٌّ عَنْهَا
كَأَنَّ فِيْ نَفْسِكَ كَلَامًا
كَأَنَّكَ فَاهِمٌ
كَأَنَّ الْمُسَافِرَ قَادِمٌ
مَثَلُ الَّذِيْنَ يُنْفِقُوْنَ اَمْوَالَهُمْ فِيْ سَبِيْلِ
اللهِ كَمَثَلِ حَبَّةٍ اَنْبَتَتْ سَبْعَ سَنَابِلَ فِيْ كُلِّ سُنْبُلَةٍ
مِّئَةُ حَبَّةٍ
وَمَا قَتَلُوْهُ وَمَا صَلَبُوْهُ وَلٰكِنْ شُبِّهَ
لَهُمْ
Tasybih menurut bahasa bermakna tamtsil yang
artinya perumpamaan atau penyerupaan. Sedangkan menurut istilah, tasybih adalah
menghubungkan sesuatu hal dengan sesuatu hal yang lainnya, dalam suatu sifat
dengan menggunakan adat (kata-kata khusus) karena suatu tujuan. Hal yang
pertama disebut musyabbah (yang diserupakan). Hal kedua disebut musyabbah
bih (yang diserupai), dan sifatnya disebut wajah syabah sedangkan adat
tasybih adalah kata-kata penyerupa.[1]
Adapun adat tasybih itu sendiri dibagi menjadi dua yakni :
1.
Huruf
asli; شبه٬ مثل٬ كأنّ٬ ك
2.
Huruf tambahan (penyamaan semua huruf yang
menunjukkan perumpamaan); شابه٬ ماثل حاكى٬
Dari beberapa contoh di atas dapat kita lihat,
Contoh yang pertama:
Pada hari itu manusia seperti laron yang beterbangan.
Huruf tasybih yakni huruf ك dalam contoh di atas
berfungsi menyerupakan 2 perkara yakni manusia yang diserupakan dengan laron
yang beterbangan (pada hari kiamat).
Contoh yang kedua:
Tidak ada sesuatu pun yang serupa dengan Dia.
Huruf ك pada contoh kedua tidak
lagi berfungsi menyerupakan, tetapi berfungsi mengukuhkan[2]
bahwa tidak ada sesuatu pun yang menyamaiNya. Lafal شيئ disebutkan dalam bentuk
isim nakirah setelah susunan nafyun (penafian) ليس . Sedangkan isim nakirah
jika disebutkan setelah nafyun menjadi makna yang menyeluruh. Artinya Allah
menafikan keserupaan dan kesamaan dzatNya dengan semua apapun dari makhlukNya.
Contoh ketiga:
Beradalah engkau pada apa yang engkau hayati.
Kadang-kadang huruf ك menggunakan ma’nanya lafazh على seperti kalimat di atas yakni
ditafsiri dengan كن على
ما أنت عليه .[3]
Contoh keempat:
Yaitu aku membuat untuk kamu dari tanah semisal bentuk burung, kemudian aku
meniupnya, maka ia menjadi seekor burung dengan seizin Allah.
Perlu kiranya diketahui bahwa ك
itu terkadang berlaku sebagai “isim” yang memakai ma’nanya lafazh مثل . Contoh tersebut
ditafsiri dengan مثل هيئة
الطّير , pada kedudukan nashob berfungsi sebagai maf’ul bih bagi lafazh “akhluqu”. [4]
Contoh kelima:
(dan) tabung kaca itu bagaikan
bintang yang berkilauan.
Huruf كأنّ pada potongan ayat di atas
berfungsi menyerupakan, karena khobarnya berupa isim jamid[5]
yakni كوكب .
Contoh keenam:
Mereka bertanya kepadamu seakan-akan engkau mengetahuinya.
Sedangkan pada contoh di atas berfungsi untuk meragukan, karena khobarnya
berupa isim musytaq[6]
yakni حفيّ .
Contoh ketujuh:
Seakan-akan di hatimu terdapat perkataan.
Huruf tasybih كأنّ pada kalimat ini berfungsi mengira. Pada umumnya
perkataan itu dapat dipahami apabila terlihat nyata baik itu berupa ucapan
langsung maupun melalui tulisan. Akan tetapi pada contoh kalimat ini
perkatataan tersebut (musyabbah bih) tidak jelas dan hanya dikira-kirakan saja
karena musyabbahnya berupa hati yang isinya tidak bisa diketahui oleh orang
lain.
Contoh kedelapan:
Seakan-akan engkau paham.
Huruf tasybih كأنّ pada kalimat ini berfungsi menghina. Tasybih dari
kalimat ini adalah bertujuan untuk menghina musyabbah sehingga orang-orang
merasa benci dan memandang rendah terhadapnya, yakni merendahkan musyabbah
dengan menyataka bahwa dia tidaklah paham.
Contoh kesembilan:
Seolah-olah
orang yang pergi itu datang.
Huruf tasybih كأنّ pada kalimat ini berfaedah taqrib. Maksud dari
kalimat tersebut adalah orang yang pergi (dari dunia yang fana) itu datang
(menuju dunia yang sesungguhnya) sehingga fungsi taqrib dalam kalimat ini
adalah mengungkapkan bahwa kematian itu dekat dengan kita selaku makhluk penghuni
dunia yang hanya sementara ini.
Contoh kesepuluh:
Perumpamaan orang yang menginfakkan hartanya di jalan Allah seperti sebutir
biji yang menumbuhkan tujuh tangkai, pada setiap tangkai ada seratus biji.
Kata مثل merupakan salah satu huruf tasybih
yang berfungsi menyerupakan, yakni pahala orang yang berinfak itu diumpamakan
seperti sebutir biji yang tumbuh belipat menjadi 700 butir. Dalam kalimat
tersebut juga terdapat kata كمثل yang berfungsi mengukuhkan bahwa Allah benar-benar
akan melipatgandakan pahala infak.
Contoh kesebelas:
Padahal mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang
mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan Isa.
Kata شبه juga termasuk huruf tasybih yang berfungsi
menyerupakan yakni menyerupakan orang yang dibunuh oleh orang-orang Yahudi
seperti nabi Isa a.s. sehingga mereka mengira bahwa orang yang mereka bunuh
adalah benar nabi Isa.
Pembagian Tasybih
Di atas telah kita ketahui bahwa tasybih itu terdiri dari
beberapa komponen yaitu musyabbah, musyabbah bih, wajah syabah dan
adat tasybih yang disebut dengan rukun tasybih. Untuk wajah syabah dan
adat tasybih itu adakalanya disebutkan dan adakalanya tidak, walaupun
keduanya itu tetap ada dalam pengertian. Apabila
ia tidak disebutkan, maka hal itu disebabkan beberapa hal, misalnya karena
sudah dapat dimaklumi, atau untuk memberi tekanan, pengeras arti atau ta’kid.[7]
Dilihat
dari ada tidaknya wajah syabah dapat dibagi menjadi:[8]
1.
Tasybih
Mufashal, yaitu tasybih yang wajah syabahnya disebutkan dalam jumlah. Contoh:
وَثَغْرُهُ فِى
صَفَاءٍ وَاَدْمُعِى كَالَلَّآلِى
Dan wajahnya pada kejernihannya, dan air mataku seperti
mutiara.
2.
Tasybih Mujmal, yaitu tasybih yang wajah
syabahnya tidak disebutkan. Contoh:
اَلنَّحْوُ فِي الْكَلَامِ كَالْمِلْحِ فِى الطّعَامِ
Ilmu nahwu dalam kalimat (kalam), seperti garam dalam
makanan.
Dilihat dari ada tidaknya adat tasybih dapat dibagi
menjadi:[9]
1.
Tasybih Muakkad, yaitu tasybih yang dibuang
adatnya. Contoh:
هُوَ بَحْرٌ فِي الْجُوْدِ
Dia adalah laut dalam hal kedermawanan.
2.
Tasybih Mursal, yaitu tasybih yang disebut
adatnya. Contoh:
هُوَ كَاالْبَحْرِ كَرَمًا
Dia seperti laut kedermawanannya.
Tetapi, apabila pembagiannya itu didasarkan
pada wajah syabah dan adat tasybih bersama-sama, maka kita dapati
pembagian tasybih sebagai berikut:[10]
1.
Tasybih Mursal Mufashal, disebut adat dan
wajahnya.
2.
Tasybih Mursal Mujmal, disebut adatnya dan
dibuang wajahnya.
3.
Tasybih Muakkad Mufashal, dibuang adatnya dan
disebut wajahnya.
4.
Tasybih Muakkad Mujmal, dibuang adat dan
wajahnya. Yang ke-4 ini disebut juga Tasybih Baligh.
Agar lebih mudah memahaminya, perhatikan tabel
dibawah ini:[11]
|
الْأَمْثِلَةُ
|
وَجْهُ الشَّبَهِ
|
أَدَاةُ التَّشْبِيْهِ
|
أَنْوَاعُ التَّشْبِيْهِ
|
|
عُمَرُ كَالْاَسَدِ فِى الشَّجَاعَةِ
|
+
|
+
|
المرسل المفصّل
|
|
عُمَرُ كَالْاَسَدِ
|
-
|
+
|
المرسل المجمل
|
|
عُمَرُ اَسَدٌ فِى الشَّجَاعَةِ
|
+
|
-
|
المؤكّد المفصل
|
|
عُمَرُ اَسَدٌ
|
-
|
-
|
المؤكّد المجمل (البليغ)
|
Kesimpulan
Huruf tasybih yaitu huruf yang digunakan untuk
menyerupakan sesuatu dengan sesuatu yang lain. Akan tetapi huruf tasybih tidak
selamanya berfungsi untuk menyerupakan saja, adakalanya terkadang dapat
berfungsi lain sesuai ketentuan yang telah ditentukan. Dengan tasybih, maka kita dapat menambah
ketinggian makna dan kejelasannya serta dapat membuat makna lebih indah dan
bermutu.
Tasybih dibagi menjadi beberapa macam, yakni:
Berdasarkan ada tidaknya wajah syabah:
1.
Tasybih
Mufashal, yaitu tasybih yang wajah syabahnya disebutkan dalam jumlah.
2.
Tasybih Mujmal, yaitu tasybih yang wajah
syabahnya tidak disebutkan.
Berdasarkan ada tidaknya adat tasybih:
1.
Tasybih Muakkad, yaitu tasybih yang dibuang
adatnya.
2.
Tasybih Mursal, yaitu tasybih yang disebut
adatnya.
Berdasarkan ada tidaknya wajah syabah dan adat tasybih:
1.
Tasybih Mursal Mufashal, disebut adat dan
wajahnya.
2.
Tasybih Mursal Mujmal, disebut adatnya dan
dibuang wajahnya.
3.
Tasybih Muakkad Mufashal, dibuang adatnya dan
disebut wajahnya.
4.
Tasybih Muakkad Mujmal, dibuang adat dan
wajahnya.
Daftar pustaka
-
Al-Ghulayaini, Syaikh Musthafa. 1992. Jaami’ud
Duruusil ‘Arabiyah (terj: Moh. Zuhri,
dkk.). Semarang: CV. ASY SYIFA.
-
Latif, Muhammad Sanusi. 1958. Al-Balaghah.
Yogyakarta: --.
-
Umam, Chatibul. 2010. Kaidah Tata Bahasa
Arab. Jakarta: DARUL ULUM Press.
[1] Chotibul Umam, Kaidah Tata Bahasa Arab
(Jakarta: DARUL ULUM Press, 2010), hlm. 473-474.
[2] Syaikh Musthafa Al Ghulayaini, Pelajaran
Bahasa Arab Lengkap Terjemah Jaami’ud Duruusul ‘Arabiyyah, Jilid III, terj.
Moh. Zuhri, dkk. (Semarang: CV. ASY SYIFA, 1991), hlm. 386.
[3] Ibid.
[6] Chotibul Umam,....hlm. 476.
[7]
Muhammad Sanusi Latif, Al-Balaghah, Jilid I (Yogyakarta:--, 1958), hlm.
34.
[8] Chotibul Umam,....hlm. 477-478.
[10] Muhammad Sanusi, .... hlm. 34.
Terima kasih ilmunnya. Silakan mampir juga di blog saya!
BalasHapusHaHuwa